devi.phina957710's blog

mencari dan memberi yang terbaik

Pertemuan Pertama dan Terakhir

September14

Devi Phina_F14100117_Laskar 18

Tak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya bahwa suatu hari nanti aku akan bertemu langsung dengan saudara tiri mama yang berada di Cina. Pada tahun 2008, tiba-tiba saja sepulang dari sekolah, mama berkata bahwa besok mama dan papa akan menjemput pamanku itu di daerah Jakarta Utara. Kakak tiri mamaku datang bersama anaknya dan cucunya.

Keesokan harinya, mereka sudah berada di rumahku. Aku sedikit canggung dan terkejut melihat mereka. Yang ada di benakku saat mama berkata mereka akan datang adalah wajah mereka yang pasti memiliki mata jauh lebih sipit dibandingkan aku dan warna kulit mereka yang putih bersih. Tetapi ternyata tidak seperti yang aku bayangkan, mata mereka tidak terlalu sipit dan memang kulit mereka sangat putih bersih. Hal yang terpenting yang aku pelajari dari mereka yaitu mereka sangat ramah padahal mama bukan saudara kandungnya. Dan mereka juga sangat baik, royal, dan sederhana.

Papa bilang saat baru saja bertemu mereka di daerah Jakarta Utara, mama tidak dapat menahan rasa haru dan air matanya karena tidak menyangka mereka bisa menemukan nomor telepon rumah kami yang sekarang. Ternyata dulu mama pernah memberikan nomor telepon rumah lama kami kepada mereka dan orang yang sudah membeli rumah lama kami itu yang memberikan nomor telepon rumah kami sekarang kepada mereka.

Salah satu kendala yang cukup berat yang aku alami saat ingin berkomunikasi dengan mereka yaitu soal bahasa. Mereka tidak mengerti berbicara dan menulis bahasa inggris maupun bahasa Indonesia. Jika mereka berkomunikasi dengan orangtuaku, mereka menggunakan bahasa daerah yang jarang digunakan di keluargaku atau menggunakan bahasa Mandarin yang hanya sedikit aku mengerti. Di saat itulah baru aku berpikir lebih jauh; andai saja sewaktu SD dulu aku rajin mempelajari bahasa Mandarin, mungkin sekarang aku sudah fasih dan bisa lancar berkomunikasi dengan saudara-saudaraku di sana.

Salah satu tujuan pamanku ke Indonesia yaitu ingin mengunjungi makam kakekku di Pontianak dan bertemu saudara-saudara lainnya juga. Akhirnya, mama dan keluarga pamanku itu pergi ke Pontianak juga selama satu minggu.

Satu cerita yang membuatku terharu dari pamanku itu. Saat kakekku datang ke Indonesia karena lari dari penjajahan Jepang di Cina, ia meninggalkan istrinya yang sedang mengandung pamanku itu. Setelah beberapa tahun di Indonesia, akhirnya kakekku menikah dengan nenekku yang merupakan ibu kandung dari mama. Setelah pamanku lahir dan mulai tumbuh menjadi seorang remaja, ibu kandungnya menceritakan bahwa ayahnya ada di Indonesia. Sejak saat itu pamanku mengumpulkan uang sedikit demi sedikit secara diam-diam untuk bisa pergi ke Indonesia dan bertemu ayahnya. Sampai suatu hari, ayahnya kembali ke Cina dan ia membongkar semua uang tabungannya−yang sudah terlihat usang. Hal itu membuat aku terkagum-kagum. Betapa besarnya kerinduan seorang anak untuk bertemu dengan ayahnya yang belum pernah dilihatnya. Dan saat mendengar cerita itu pun anak pamanku dan mama langsung menitikkan air matanya. Yang terpenting dari semuanya itu adalah akhirnya kami bisa bertemu dengan keluarga jauh kami dan semuanya itu belum terlambat. Ternyata pertemuak kami dengan pamanku merupakan pertemuan yang terakhir juga, setahun yang lalu, pamanku itu meninggal. Semoga saja keinginannya untuk bertemu keluarga besar di Indonesia itu bisa membuat hidupnya tenang. Dan aku pun akan merindukan suatu hari pertemuan dengan saudara-saudaraku yang lain di Cina.

posted under Academic | No Comments »

Lahir untuk Menang

September14

Dokter memanggil aku dan orangtuaku ke kantornya. Ia menjelaskan, “Jake, kau menderita angiosarcoma, sejenis kanker yang sangat jarang. Ada tiga puluh tumor di kakimu. Dalam lima belas tahun ini, hanya ada beberapa kasus di Amerika Serikat di mana jenis kanker ini terjadi hanya dalam keadaan ekstrim. Biasanya ditemukan dalam organ-organ internal, tapi karena suatu sebab tumormu berawal dari kakimu dan menyebar ke pergelangan kaki.”

Bagaimana ini mungkin? Selama pertandingan basket−liga musim panas−aku merasakan sesuatu yang tidak beres pada pergelangan kakiku. Setelah pincang sepanjang bulan itu, aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Sekolah baru mulai dan aku perlu berada dalam keadaan prima untuk musim pertandingan basket. Kupikir paling kakiku retak.

Dokter melanjutkan, “Kau benar-benar tidak punya pilihan. Masalah terbesar dengan jenis kanker ini adalah tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Kemo dan radiasi tidak akan berhasil. Kita perlu mengamputasi bagian bawah kakimu.”

Aku pulang dan langsung masuk ke kamarku. Di sana aku menangis habis-habisan. Aku berpikir, Kenapa aku? Aku baru enam belas tahun. Anak yang baik; aku belum pernah melakukan suatu kesalahan dalam hidupku.

Siang itu satu-satunya waktu saat aku mengasihani diriku. Aku teringat tentang nenekku, Baba−ia meninggal dua tahun yang lalu−dan betapa beraninya dia. Waktu itu dia menderita diabetes. Karena komplkasi, kakinya diamputasi. Tak peduli betapa besar rasa sakit yang dirasakan Baba, ia selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh.

Aku berbicara sebentar dengan Tuhan hari itu. Aku berkata, “Aku akan berusaha untuk bisa sekuat Baba. Kalau itu berarti aku harus merelakan kaki kananku untuk bisa mempertahankan hidupku, aku akan mengikuti permainan karena aku belum ingin kehilangan nyawa.”

Pagi sebelum pembedahan aku mendengar sebuah lagu dari kelompok penyanyi favoritku, Beastie Boys. Aku mendorong diriku sendiri untuk bersikap tegar dan menjalani semua ini hingga tuntas.

Beberapa hari pertama setelah pembedahan merupakan saat-saat yang palng sulit. Aku mengalami momoknya rasa sakit. Rasanya benar-benar sakit. Otak tidak mengerti bahwa sebagian tubuhku sudah tidak ada aku terbangun di tengah malam karena ingin menggaruk jari kakiku, tapi itu tidak bisa kulakukan. Hal ini berlangsung selama tiga jam−benar-benar merupakan siksaan.

Tidak lama aku mengenakan penopang kaki. Langkah berikutnya adalah memperoleh kaki palsu. Aku tak pernah melupakan hari itu. Ahli terapi fisik memberitahukanku bahwa berjalan dengan kaki palsu itu sulit. Aku diminta bersabar karena perlu satu setengah hingga dua bulan untuk belajar berjalan tanpa penopang. Aku memandangnya dan berkata, “Anda tahu? Aku akan belajar berjalan tanpa penopang dalam dua minggu.”

Ternyata aku berhasil dalam satu minggu. Ketika aku berjalan masuk ke klinik terapi, ahli terapiku memegang sebuah bola basket. Ia berkata, “Ini, Jake, karena kau membuktikan bahwa kau mampu berjalan dalam waktu singkat, mari kita masukkan bola.”

Perlahan-lahan aku berjalan ke lapangan basket. Aku berdiri di garis free throw, lalu ahli terapi itu melemparkan bola ke arahku. Aku melemparkan bola itu ke keranjang. Kau tidak bisa membayangkan perasaanku ketika mendengar desingan lemparan bola. Kupikir, aku masih punya potensi untuk main. Aku masih orang yang sama.

Sejak itu kemajuanku semakin meningkat. Sebulan kemudian aku belajar berlari. Aku sudah bermain basket lagi dan selama waktu senggangku di saat jam makan siang, aku bermain lempar bola ke keranjang bersama teman-temanku.

Ayahku membawaku ke San Antonio untuk menemui Thomas Bourgeois, atlet nomor satu di Amerika Serikat. Seorang atlet pancalomba yang mengikuti lima lomba di Paralimpiade, penyelenggaraan olahraga elit untuk atlet dari enam kelompok orang cacat. Mereka menekankan prestasi atletik para peserta daripada cacat mereka. Pertandingan Paralimpiade selalu diselenggarakan pada tahun yang sama seperti Pertandingan Olimpiade. Di Atlanta pada tahun 1996, 3.195 atlet ikut berpartisipasi.

Thomas memenangkan medali perunggu pada tahun 1992 di Barcelona dan medali perak di Atlanta tahun 1996. Ketika kami bertemu dengannya; aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memandanginya. Inilah dia seorang atlet profesional yang memakai celana pendek yang memperlihatkan kaki palsunya−alat yang tampak seperti robot berwarna hitam−dan tampak sepenuhnya percaya diri. Ia bahkan mengenakan sandal di kakinya. Sedangkan aku memakai celana panjang, berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kaki palsuku.

Setelah makan siang, kami pergi ke lapangan basket. Aku dan dia bermain melawan tiga anak college dan berhasil mengalahkan mereka. Aku tak percaya melihat gerakannya. Ia membuat anak-anak yang normal itu tampak seperti anak kecil.

Thomas berkata, “Jake, menakjubkan sekali bahwa dalam enam bulan kau bermain bola seperti ini. Kau punya masa depan dalam bidang atletik.” Aku pergi bersama Thomas ke Summer Nationals untuk menyaksikannya bertanding. Untuk melihat semua atlet itu dengan kaki palsu mereka berlaga dengan hebatnya sehingga sulit diterima dengan akal sehat.

Akhirnya aku membuka klinik bersama Dennis Oehler, seorang pemenang medali emas dalam Paralimpiade tahun 1988. Ia membuka klinik untuk penderita amputasi baru dan mengajari mereka cara berlari lagi. Kami mulai dengan jalan cepat, lalu jogging. Ia menyuruhku untuk berlari seperti dulu. Aku berlari. Sembilan bulan setelah kakiku diamputasi, akhirnya aku berlari lagi. Air mata memenuhi mataku−aku merasa seperti sedang terbang.

Dennis memberitahuku bahwa ia tidak pernah melihat seorang pun berlari dalam waktu secepat itu setelah diamputasi. Ia mendaftarkan aku dalam lomba lari amatir jarak seratus meter. Aku berlari dengan catatan waktu lima belas detik per seratus meter, yang masih sangat buruk. Tapi aku menyelesaikan lomba dan merasa luar biasa.

Aku pulang dan menceritakan kepada orangtuaku bahwa aku ingin mulai lari−tapi kaki palsu untuk lari berharga dua puluh ribu dolar. Untungnya Nova Care, manufaktur kaki palsu itu, terkesan dengan kemajuanku sehingga mereka menghadiahkan sepasang kaki palsu untuk lari padaku.

Aku berlatih untuk pertandingan nasional. Aku belum siap untuk bertanding dengan tim sekolah lamaku, tapi aku ikut berlatih bersama mereka. Pertandingan nasional sangat mengesankan. Kali ini aku berlari dengan catatan waktu 13,5 detik per seratus meter dan aku memenuhi kualifikasi untuk Kejuaraan Dunia.

Aku pergi ke Olympic Training Center di California. Hanya atlet Olimpiade dan Paralimpiade Amerika Serikat yang dapat berlatih di sana. Aku berusaha sangat keras karena tahu aku hanya punya dua minggu untuk mempersiapkan diri.

Kejuaraan Dunia diselenggarakan di Birmingham, Inggris. Di sana ada enam ratus atlet dari lebih dari enam puluh negara. Kedua orangtuaku dan adikku datang untuk melihatku bertanding untuk pertama kalinya. Aku berhasil masuk semifinal, tap setelah itu aku kalah. Aku tetap merasa gembira bisa berada di tempat itu bersama orang-orang yang menganut falsafah yang sama denganku. Perasaan dalam pertandingan-pertandingan itu−semangatnya−adalah tentang para atlet dari seluruh pelosok dunia yang mengatasi perbedaan dan memberikan segala yang kami miliki.

Ketika aku kembali pulang, aku berusaha masuk ke tim lari di sekolahku dan membentuk kelompok regu universitas. Kupikir aku adalah salah satu anak pertama dengan kaki diamputasi yang pernah berlomba lari regu universitas melawan anak-anak lain yang normal.

Pada lomba pertama, ketika aku berbaris dengan orang-orang yang berkaki dua, aku merasa perlu mencairkan suasana. Ayahku bilang, sejak awal, orang-orang akan menirukan perilakuku. Ia menasihatiku untuk menghadapi setiap situasi dengan sikap positif.

Aku menatap lawan-lawanku dengan hati panas dan berkata, “Apakah aku berada di tempat yang salah? Kurasa semestinya aku berada dalam lomba untuk orang-orang cacat. Kalian pasti akan mengalahkanku.”

Salah seorang dari mereka berkata, “Aku pernah melihatmu di koran. Kau dapat lari cepat. Kami mendengar tentangmu. Kau tidak bisa pura-pura pada kami.”

Kupikir kalau aku bisa mengalahkan salah satu dari mereka saja, aku akan merasa bahagia. Akhirnya aku keluar sebagai pemenang keempat dan mengalahkan tiga atau empat orang lain. Mereka mengatakan padaku bahwa aku adalah pelari satu kaki tercepat yang pernah mereka lihat.

Sasaranku adalah bertanding di Paralimpiade tahun ini. Sementara itu aku berlatih keras. Aku juga pergi ke rumah sakit dan berkumpul dengan anak-anak kecil. Yang paling hebat adalah ketika aku melihat seorang anak lima tahun dengan kaki palsu. Aku bisa mengangkat celana panjangku ke atas dan mengatakan, “Lihatlah, aku juga punya kaki sepertimu!”

Aku adalah salah satu anak yang beruntung. Kedua orangtuaku, pelatihku, dan teman-temanku mendukungku sejak saat aku didiagnosa menderita penyakit. Aku bertemu dengan Thomas, yang percaya pada kemampuanku dan kemudian Dennis, yang mengajariku cara berlari. Aku akan melihat ke mana lari akan membawaku, tapi setelah semua itu selesai, aku sangat ingin melakukan apa yang dilakukan Dennis−mengajari cara berlari lagi kepada anak-anak yang diamputasi. Aku juga ingin terus menceritakan pengalamanku pada anak-anak dan orang-orang dewasa yang menderita−siapa pun yang hilang keyakinan dan berpikir hidup mereka sudah berakhir−bahwa jika kau mencari sesuatu yang baik dari sesuatu yang buruk, kau akan selalu mendapatkannya. Dengan sikap yang benar, kau akan selalu menang.

Jake Repp

Sumber: Chicken Soup for Teenage Soul on Tough Stuff

posted under Academic | No Comments »